Awan kelabu

 Seorang wanita tua duduk sendirian di taman kota ,tatapannya sendu, tubuhnya kurus, rambutnya yg terpotong sebahu berwarna putih keperakan, ia terlihat sedikit berantakan kalau saja tidak dibantu oleh pakaiannya yang cukup elegan. Dia mengamati orang lalu lalang di depannya, sesekali tersenyum kecil melihat tingkah polah anak kecil yang berkejaran, anak sekolah yang antri membeli es krim sambil bercanda.

Bu Ning namanya, tetanggaku sejak aku pindah ke kota ini 30 tahun lalu. Suaminya Pak Prakoso meninggal 4 tahun lalu di saat COVID menyerang negeri ini. Sepeninggal suaminya, dia hidup berdua dengan putra bungsunya, Yonas, yang memiliki cacat bawaan dari lahir, kakinya terlalu kaku untuk digerakkan, sehingga dalam 40 tahun kehidupannya , ia memakai kursi roda kemana mana. Meski begitu Yonas tak pernah patah semangat, ia suka menyanyi, terkadang mengisi acara di acara kawinan atau reunian. Kalau tak ada panggilan mengisi acara, hari harinya diisi dengan menggambar, dia seorang freelancer perusahaan multimedia. Beruntung atasannya yg notabene adalah tetangga blok sebelah,sangat memahami kondisinya, yonas boleh bekerja dari rumah.
Bu Ning sendiri sebagai penyandang tuna rungu dan tuna wicara, untuk menyambung hidup,dia mengandallkan keahliannya membuat kue kue. Nastar, kastengel, putih salju, sebut saja kesukaan kalian, Bu Ning bisa membuatnya dengan rasa enak


Bu Ning memiliki 4 putra. putra tertuanya si Surya saat ini tinggal di Bogor beserta anak istrinya. mereka mempunyai restoran ayam goreng yang kabarnya merupakan resep turun menurun dari keluarga istrinya,Evi, yang berasal dari Surabaya. cabang RM Ayam Hepi ini sudah ada di beberapa kota besar, semuanya dapat dihandle surya dan Evi dengan baik. Mereka hidup bahagia dan bercukupan dengan 2 orang putra putrinya. Enam bulan sekali,ditepatkan dengan liburan anak sekolah,Surya sekeluarga mengunjungi kampung halamannya, menengok ibunya. Terkadang ia menawarkan ibunya dan Yonas bersama sama ke bogor untuk menikmati sejuknya kota hujan itu.

Putra keduanya, Wirya, sukses membuka toko bahan bangunan di Denpasar. Toko mereka selalu dipenuhi oleh truk yang mengirim dan mengambil bahan bangunan. Meski keduanya tampak sukses, sebenarnya di balik semuanya itu tersimpam cerita kelabu yang menggiring wirya pada kematiannya 5 tahun lalu. Kala itu wirya pamit menemui supplier, tak disangka yang dimaksud adalah supplier obat terlarang. Keesokannya dia ditemukan terbujur kaku di sebuah hotel di Kuta
masih kuingat,saat aku melayat, Bu Ning dan pak prakoso sangat tegar dan tabah menghadapi berita kematian putra keduanya itu.
apa mereka memang sudah menyiapkan hari ini? mengingat anak keduanya itu memang sesuatu dibanding dengan saudara2nya.
"nakalnya agak di luar nalar", celetuk Pak Onky, tetangga seberang rumahnya.
Tapi yang ku tahu pasti, tak akan pernah ada orang tua yang bahagia dengan kematian anak nya.

anak ketiga mereka Harjuno, tidak pernah ku lihat sama sekali. Hanya sesekali terdengar nama itu disebut oleh Yonas, "kak Har" dia biasa menyebut.
ibu cerita Hardjuno adalah anak yang pintar dan aktif kegiatan sekolah, predikat pelajar teladan selalu disabetnya setiap tahun. Harjuno meninggal karena kecelakaan saat duduk di bangku SMP, sore itu dia berjalan kaki dari pulang sekolah setelah mengikuti pelatihan basket untuk lomba mewakili skolahnya, tak sengaja ditabrak oleh mobil yang disetir anak muda yang baru saja belajar menyetir.
malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih, Bu Ning kehilangan putranya, tempat dimana dia menggantungkan harapannya yang setinggi langit.

Bulan lalu. ku dengar lagi berita duka menyelimuti rumah Bu Ning, Yonas pergi mendahului dia menghadapNya. kabarnya ada beberapa komplikasi yang menyerang, dan terlambat penanganannya.
bu Ning menangis sejadi jadinya, merasa dirinya ditinggal oleh orang orang yang ia cintai satu per satu.

 "Kenapa bukan aku saja? Sisa hidupku tak akan lebih banyak dari Yonas. Seharusnya aku saja yang dijemput malaikat maut, Masih banyak yang belum Yonas gapai",jerit bu Ning dalam sukma nya.Seminggu pasca Yonas meninggal, bu Ning enggan makan, minum pun kalau disodorkan, barulah bu Ning bergerak. Menyeruput seteguk cairan disodorkan, lalu kembali memejamkan mata dalam heningnya. Setiap bu Ning menutup indranya, seketika itu juga sekelebat bayangan pak Prakoso tersenyum berlutut di hadapannya melamar dirinya, memori Harjuno berteriak girang menunjukkan piagam penghargaan dari sekolahnya, Wirya yang selalu menari dengan wajah bandelnya di kala ibunya menunjukkan tatapan gusar, Yonas yang tak pernah absen memijat tangan kakinya, semuanya silih berganti menyerbu ruang memori nya, seakan memaksanya untuk menghidupkan kembali mesin waktu dalam pikirannya.


Bu Ning kembali sesenggukan, tanpa air mata. Air matanya sudah kering , seiring keringnya jiwa bu Ning

"bu, ikut aku saja ke bogor, tinggallah bersamaku, setidaknya ada cucu ibu yang bisa membuatmu tersenyum setiap hari nya" ,tiba tiba terdengar suara. Bu Ning membuka matanya,Surya duduk di pinggiran ranjang, di sebelahnya ada Evi tersenyum menanggukkan kepala.Bu Ning hampir lupa ia masih punya Surya. Seketika ia tersadar, masih ada Surya, apple to her eyes

meski ia telah menguburkan tiga putra, Life must go on. Pasti ada hikmah di balik semua kejadian ini

Besok bu Ning bersiap menuju Bogor, hari ini dia sengaja berjalan menuju taman kota yang jaraknya hanya 200 meter dari rumahnya. Duduk disana menikmati sore, angin sepoi membawanya ke ingatan 50 tahun lalu saat pertama kalinya dia ke taman ini bersama suaminya. Berjalan mengelilingi taman kota disaat dirinya sedang hamil Surya, melihat Wirya pertama kali berjalan, mengingat dirinya yang selalu mengejar Hardjuno yang berlari mengejar kucing, atau Yonas yang memberi makan burung2 dari atas kursi rodanya
semua memori itu tak lekang oleh waktu di ingatannya, taman ini menjadi saksi bisu kebersamaan keluaarga nya. Meski buat beberapa orang , ini adalah memori kelam, bagi bu Ning taman kota ini adalah memori indah ia dan suami beserta empat anaknya.
Entah kapan dia bisa kembali lagi ke kota ini, kota ini adalah bagian dari hidupnya. Setengah abad sudah dia habiskan di kota ini.
Semoga Tuhan dan waktu mengijinkannya



A wife who loses a husband is called a widow.
A husband who loses a wife is called a widower
A child who loses his parents is called an orphan.
There is no word for a parent who loses a child 
 That’s how awful the loss is. 


1 comment:

Si Trungtung

Suzuki ST20 berwarna merah itu menjadi saksi perjuangan hidup orang tua ku. Mobil itu adalah mobil pertama yang berhasil dibeli oleh papaku ...